Sunday, October 17, 2010

Mimpi Berjumpa Rasulullah s.a.w : Habib Munzir al-Musawwa


Assalamualaikum w.b.t


Alhamdulillah wa syukruliLlah.. Panjatkan kesyukuran pada Ilahy, Dialah yang memberi petunjuk di siang dan malam. Dia lah pemilik segala cinta dan kaseh sayang. Syukur yang tidak terkira kerana hati ini maseh lagi mahu menangis kerana dosa yang banyak di lakukan. Dosa yang mengharap keampunan Allah s.w.t.. "Ya Allah, aku hamba berdosa, ampunkanlah dan terimalah penyesalanku ini..Ya Allah, pimpinlah hati ini menuju Redho-Mu..Moga dengan rasa cintaku yang mendalam kepada Sayyidina Muhammad s.a.w dan ahlul baitinya, membawa aku ke Lautan makrifat Mu ya Ilahy.." ..astaghfiruLlah..

EnsyaAllah, dengan penuh rasa berdosanya hamba, apalah kiranya kita membawa cinta kita menyelam bersama cinta bertemu ya Habiballah yaitu Sayyidina Muhammad Rasulullah s.a.w. Moga kita bisa bertemu dengan Baginda..ameen..

Mimpi Berjumpa Rasulullah s.a.w-by Habib Munzir al-Musawwa

Senin, 04 Oktober 2010


قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:


سَمُّوا بِاسْمِي، وَلَا تَكْتَنُوا بِكُنْيَتِي، وَمَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ، فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw : “Berilah nama-nama kalian dengan namaku, dan jangan memakai gelar seperti gelarku, dan barangsiapa bermimpikan aku dalam tidurnya sungguh ia telah melihat aku, maka sungguh syaitan tidak mampu menyerupai diriku, dan barangsiapa yg berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaknya ia bersiap akan tempatnya di neraka” (Shahih Bukhari)


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ الْمُبَارَكَةِ…

Limpahan puji kehadirat Allah Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan kebahagiaan sepanjang waktu dan zaman, sebelum zaman dicipta hingga zaman dicipta dan kemudian sirna, setiap generasi terlahir dan wafat kesemuanya di dalam pengaturan Sang Maha Tunggal dan Maha Abadi, samudera segenap ketentuan dan segala kejadian yang lalu dan yang akan datang berada dalam samudera kelembutan-Nya, di dalam samudera kasih sayang-Nya. Sungguh Allah subhanahu wata’ala sangat Maha Pengasih dan Maha Penyayang, seandainya Dia tidak berkasih sayang dan mau menghukum hamba-Nya sebab kesalahan-kesalahan mereka, sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ ( النحل : 61 )

“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya” ( QS. An Nahl: 61)


Maka jika Allah mau menghukum manusia karena kesalahan yang mereka lakukan, maka mereka tiadalah akan tersisa lagi di muka bumi ini, namun Allah menunda setiap nafas, setiap detik, dan hari demi hari (agar kita bertobat) hingga waktu yang telah Allah tentukan, yaitu sakaratul maut. Allah bersabar menanti kita, Allah bersabar untuk menunda siksa-Nya, dan tidak mau menghukum kita, Allah siap melimpahkan kemuliaan hingga sepuluh kali lebih besar dari kebaikan yang kita perbuat, bahkan hingga 70 kali lipat. Allah subhanahu wata’ala menuliskan satu perbuatan dosa hanya dengan balasan satu dosa, namun perbuatan baik Allah akan melipatgandakan balasannya dengan 10 kali pahala hingga 700 kali lebih besar, demikian dalam riwayat Shahih Al Bukhari, bahkan dalam riwayat Shahih Muslim bahwa setiap kebaikan akan dilipatgandakan balasannya 10 kali lebih besar hingga 700 kali dan lebih dengan kehendak Allah, berarti cinta kita kepada Allah dibanding dengan cinta Allah kepada kita 10 kali lebih besar cinta Allah kepada kita, bahkan 700 kali lebih besar dari cinta kita kepada Allah. Sekali kita beribadah dan berbakti kepada Allah maka sepuluh kali Allah subhanahu wata’ala berbakti kepada kita, maksudnya Allah berbakti kepada kita adalah mengganjar dan membalas dengan kebaikan, menyambut dengan kehangatan, sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab Taujih An Nabiih Limardhaati Baariih karangan guru mulia kita Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsi:

ياَدَاوُد لَوْ يَعْلَمُ الْمُدْبِرُوْنَ عَنِّيْ شَوْقِي لِعَوْدَتِهِمْ ، وَمَحَبَّتِيْ فِيْ تَوْبَتِهِمْ ، وَرَغْبَتِيْ فِي إِناَبَتِهِمْ لَطاَرُوْا شَوْقًا إِلَيَّ ، يَادَاوُد هَذِهِ رَغْبَتِيْ فِى الْمُدْبِرِيْنَ عَنِّي ، فَكَيْفَ تَكُوْنُ مَحَبَّتِيْ فِى الْمُقْبِلِيْنَ عَلَيَّ…؟

“Wahai Daud : Seandainya orang-orang yg berpaling dari-Ku mengetahui kerinduan-Ku atas kembalinya mereka, dan cinta-Ku akan taubatnya mereka, dan besarnya sambutanku atas kembalinya mereka pada keridhoan Ku, niscaya mereka akan terbang karena rindunya mereka kepada-Ku. Wahai Daud, demikianlah cinta-Ku kepada orang-orang yg berpaling dari Ku (jika mereka ingin kembali), maka bagaimanakah cinta-Ku kepada orang-orang yg datang (mencintai dan menjawab cinta Allah ) kepada-Ku?”


Apabila mereka yang terus berdosa dan berbuat salah memahami betapa rindunya Allah kepada mereka apabila mereka mau kembali kepada kasih sayang dan keridhaan Allah, mau kembali kepada jalan keluhuran dan meninggalkan kehinaan untuk mendekat kepada Allah, jika mereka mengetahui betapa besarnya rindu Allah kepada mereka, betapa besarnya cinta Allah kepada taubat mereka dan betapa hangatnya sambutan Allah untuk mereka yang mau kembali kepada-Nya, jika mereka mengetahui hal itu sungguh mereka akan wafat di saat itu juga untuk menuju kepada Allah karena tidak mampu menahan rindu kepada Allah, karena Allah telah merindukannya, karena Allah telah mencintainya, maka mereka akan meninggalkan segenap dosa dan tenggelam dalam taubat dan kerinduan kepada Allah. Kita tidak mengetahuinya, namun paling tidak ada sedikit kefahaman di dalam jiwa dan sanubari bahwa ada Sang Maha Abadi Yang menanti kita dengan kebahagiaan yang kekal, Yang menyiapkan cinta, rindu dan sambutan hangat-Nya untuk mereka yang mau membenahi dirinya, maka berusahalah dan Allah tidak memaksa lebih dari kemampuan kita.


Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh guru kita yang kita cintai, As Syaikh Amr Khalid tentang cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sampailah kita pada hadits agung ini:

سَمُّوا بِاسْمِى وَلاَ تَكْتَنُوْا بِكُنْيَتِي

” Berilah nama dengan namaku dan janganlah memakai kun-yahku “


Maksudnya dengan nama beliau nabi “Muhammad” shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh sebab itu jika saya dimintai untuk memberikan nama maka pasti saya beri nama “Muhammad…..”, dan ada kelanjutannya, saya tidak pernah memberi nama dengan nama yang lain, walaupun nama nabi banyak namun sungguh nama yang terbaik adalah “Muhammad” shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga banggalah kelak mereka yang ketika dipanggil kehadapan Allah membawa nama nabi “Muhammad”. Namun perintah memberikan nama dengan nama nabi bukanlah perintah wajib melainkan sunnah menggunakan nama nabi “Muhammad”, dan Rasulullah melarang untuk memakai gelar beliau. Para Ulama berbeda pendapat dalam hal kun-yah (gelar) ini, sebagian mengatakan “Abu Al Qasim” dan larangan itu hanya ketika di masa hidupnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun gelar beliau yang tidak boleh digunakan hingga akhir zaman adalah gelar “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”, karena gelar ini hanya untuk nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para rasul, maka tidak boleh kita gunakan, namun gelar “Abu Al Qasim” atau yang lainnya boleh digunakan tetapi setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mengapa? karena pernah terjadi dimana seseorang di zaman Rasulullah memberi nama anaknya Qasim, maka si ayah dipanggil dengan sebutan “Abu Al Qasim” dan Rasulullah pun menoleh maka ketika itu Rasulullah melarang menggunakan gelar itu di masa hidup nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun di zaman sekarang tidak ada larangan. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‏مَنْ رَآنِيْ فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِيْ

“Barangsiapa melihatku di waktu tidur maka dia benar benar telah melihatku, karena syeitan tidak dapat menyerupaiku”


Sungguh syaitan tidak akan bisa menyerupai bentuk Rasulullah, betapa indahnya wajah yang tidak mampu diserupai oleh syaitan, nabi kita sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Syaitan mampu berpura-pura menjadi guru, menjadi murid dan yang lainnya namun syaitan tidak bisa menyerupai wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak pertanyaan yang muncul kepada saya tentang hal ini, “Habib, saya bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi wajahnya berupa wajah habib fulan atau kiyai fulan, apakah itu mimpi Rasulullah?”, iya itu adalah mimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, selama orang yang kita lihat itu adalah wajah orang yang shalih. Namun dijelaskan oleh beberapa habaib kita di Tarim Hadramaut, bahwa tidak ada seseorang dari kaum shalihin yang diserupai wajahnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali dia adalah wali Allah subhanahu wata’ala (orang yang dicintai Allah). “Habib, ada yang mimpi Rasulullah tetapi wajahnya kok gelap dan tidak bagus bentuknya, pincang atau cacat?!”, apakah itu juga mimpi Rasulullah?, hal itu adalah cermin dari diri kurang baiknya hati kita, karena hati kita adalah cermin, jika sebuah cermin terdapat banyak noda maka hasil dari cermin itu juga banyak noda, jadi apabila kita bermimpi Rasulullah dalam keadaan cacat maka yang cacat adalah hati kita, bukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan hal itu merupakan teguran dari Allah subhanahu wata’ala untuk mengingatkan kita. Diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani Ar di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa orang yang bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan melihat wajah asli beliau, namun hal ini tergantung derajat orang tersebut, para kekasih Allah dan para shalihin, mereka akan melihat wajah asli rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam mimpinya. Diriwayatkan pula oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani bahwa salah satu istri Rasulullah menyimpan sebuah cermin yang pernah ia gunakan, kemudian dipinjam oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau bercermin dengan cermin itu, setelah cermin itu dipakai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka cermin itu menampakkan wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam begitu jelas, cermin itu tidak mau lagi memunculkan atau mencerminkan wajah yang lain setelah digunakan bercermin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan jika istri Rasulullah ini rindu dengan Rasulullah setelah beliau wafat, maka ia melihat cermin itu dan ia lihatlah wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena cermin itu tidak mau lagi menampakkan wajah yang lain. Maka para tabi’in yang ingin melihat wajah Rasulullah mereka datang kepada istri Rasulullah dan melihat cermin itu sehingga mereka melihat wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Subhanallah, sebuah cermin pun tidak bisa lagi menjadi sebagai cermin setelah melihat wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dijelaskan di dalam buku “Muhammad Insan Al Kamil” oleh Al allamah Al Musnid Al Habib Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki tentang perbedaan wajah nabiyullah Yusuf As dengan wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana dahulu di masa nabi Yusuf para wanita memotong jari-jarinya karena indahnya wajah nabi Yusuf As, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ يوسف: 31 )

“Ketika perempuan-perempuan itu melihatnya , mereka terpesona kepada (keelokan rupanya) dan mereka (tanpa sadar) melukai tangannya sendiri, seraya berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia, sungguh ini adalah malaikat yang sempurna” (QS. Yusuf : 31 )


Maka berkatalah As Syaikh Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki Ar menukil salah satu riwayat sahabat bahwa Allah tidak menampakkan keindahan wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara keseluruhan di muka bumi, hanya 1 keindahan dari 10 bagian yang diperlihatkan, jika seandainya yang 9 bagian itu ditampakkan juga maka orang-orang akan mengiris hatinya tanpa terasa karena indahnya wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan itu kelak akan diperlihatkan di telaga Haudh. Semoga aku dan kalian memandang wajah yang indah itu, amin.


Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa sayyidina Anas bin Malik Ra berkata:

مَا نَظَرْناَ مَنْظَرًا كاَنَ أَعْجَبَ إِلَيْنَا مِنْ وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Kami belum pernah melihat pemandangan yang lebih menakjubkan dari wajah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”


Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang banyak sekali dan sangat mudah dan suka mendoakan orang lain, dan beliau adalah makhluk yang paling indah, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa salah seorang sahabat Ra berkata: “aku belum pernah mendengar suara yang lebih indah dari suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga suara beliau membuat hati luluh dan ingin mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala”. Dan Allah berfirman dalam Al qur’an menyifati indahnya bacaan sang nabi :

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا ، يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآَمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا ( الجن : 1-2 )

“Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Rabb kami” ( QS. Al Jin: 1-2)


Dan Allah berfirman:

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا ( الجن : 19 )

“Dan ketika hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya” ( QS. Al Jin: 19 )


Dijelaskan di dalam Shahih Muslim, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan membaca al qur’an dan di saat itu iblis melihat pintu-pintu langit ditutup dan tidak bisa lagi ditembus oleh iblis dan syaitan, maka di saat itu iblis berkata : “apa yang telah terjadi di barat dan timur sehingga kita tidak bisa lagi menembus langit?!”, maka ketika mereka mencari di penjuru barat dan timur, mereka pun menemukan cahaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang berdoa dan membaca al quran al karim, dan cahaya itu membuat para jin berdesakan untuk mendengarkan bacaan itu kemudian mereka beriman. Dan dijelaskan di dalam Kitab-kitab Tafsir, tafsir Ibn Katsir dan lainnya bahwa di saat itu ada beberapa raja jin yang diperintahkan oleh iblis untuk melihat apa yang terjadi, justru mereka beriman kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Para jin itu pun berdesakan ingin mendengarkan suara indah yang keluar dari jiwa yang suci dan khusyu’ yang merindukan Allah subhanahu wata’ala, jiwa yang dipenuhi dengan getaran iman. Oleh sebab itu, ketika salah seorang sahabat Ra (dalam riawayat yang tsiqah) melihat aurat seorang wanita dengan sengaja, maka ia merasa telah berbuat dosa yang sangat besar dan ia pun menyendiri ke atas gunung dan tidak mau lagi melihat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena dia merasa tidaklah pantas matanya melihat wajah beliau karena mata itu telah berbuat zina. Dan setelah beberapa hari Rasulullah menanyakan orang itu karena beberapa hari Rasulullah tidak melihatnya, maka sayyidina Abu Bakr As Shiddiq Ra mendatanginya ke gunung dan berkata kepada orang itu: “engkau dipanggil oleh Rasulullah”, orang itu menjawab: “aku tidak mau melihat wajah Rasulullah, mataku tidak lagi pantas memandang beliau karena telah berbuat dosa”, maka sayyidina Abu Bakr berkata: “ini adalah perintah Rasulullah”, maka ia pun datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ketika itu Rasulullah sedang melakukan shalat maghrib, dan ketika ia mendengar bacaan Rasulullah dari kejauhan, ia pun terjatuh dan roboh karena tidak mampu mendengarkan lantunan suara indah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia diberdirikan oleh sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan dibimbing untuk terus masuk ke shaf shalat dan setelah selesai shalat, ketika orang-orang mulai berdiri dan keluar dari shaf shalat, ia hanya tertunduk saja, maka Rasulullah memanggilnya dan berkata :”kemarilah mendekat kepadaku”, ia mendekat hingga lututnya bersatu dengan lutut nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam namun ia tetap menundukkan kepalanya dan berkata: “wahai Rasulullah, aku tidak mau lagi melihat wajahmu karena mataku sudah banyak berbuat dosa”, maka Rasulullah berkata :”mohonlah ampunan kepada Allah”, maka ia berkata: “aku meyakini bahwa Allah Maha Pengampun, namun mata yang sudah banyak berbuat dosa ini tidak lagi pantas melihat wajahmu wahai Rasulullah”, ia masih terus menundukkkan kepalanya maka rsaulullah berkata : “angkatlah kepalamu!!”, maka ia pun mengangkat kepalanya perlahan lahan dan beradu pandang denga Rasulullah, lalu ia kembali menundukkan kepalanya dan menangis di pangkuan Rasulullah kemudian wafat dipangkuan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka para sahabat pun kaget dan iri dengan orang itu karena walaupun mereka berjihad siang dan malam namun mereka tidak sempat mendapatkan kesempatan untuk wafat dipangkuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ketika itu air mata Rasulullah mengalir dan jatuh di atas wajah orang itu. Hadirin hadirat, sungguh mata kita penuh dengan dosa dan kesalahan, namun Sang Maha Pengampun tidak berhenti mengampuni, sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ada 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah dimana ketika itu tidak ada naungan kecuali naungan Allah, diatara 7 kelompok itu adalah :

رَجُلٌ ذَكَرَ اللهُ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

” Seseorang yang ketika berdzikir (mengingat Allah) maka mengalirlah air matanya”


Maka orang itu akan mendapatkan naungan Allah kelak di hari kiamat. Dan saat di surga kelak masih ada orang-orang yang belum melihat keindahan dzat Allah subhanahu wata’ala, mereka adalah orang-orang yang ketika di dunia mata mereka banyak berbuat dosa, dan malaikat tidak mau membuka tabir yang menghalangi dzat Allah dengan mereka, maka Allah berkata kepada malaikat: “mengapa kalian masih menutupkan tabir untuk mereka, mereka adalah penduduk surga yang telah kuampuni dosa-dosa mereka”, maka malaikat berkata: “wahai Allah, dahulu ketika mereka di dunia mata mereka banyak melakukan dosa, maka mereka tidak pantas memandang keindahan dzat-Mu”, maka Allah subhanahu wata’ala berfirman: “angkatlah tabir yang menghalangi-Ku dengan mereka, karena dahulu mata mereka pernah mengalirkan air mata rindu ingin berjumpa dengan-Ku”…


فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …

Ucapkanlah bersama-sama


يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ


Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Semoga Allah subhanahu wata’ala memulikanku dan kalian dengan keluhuran, dan membimbing hari-hari kita dengan seindah-indahnya, amin. Malam ini kita akan melakukan shalat ghaib untuk Al Marhum Al Maghfurlah Al Habib Syech bin Ahmad Al Musawa dalam usianya yang sangat lanjut, beliau adalah ulama’ besar yang murid beliau mencapai ribuan habaib dan kiyai, beliau tinggal di Klender selama kurang lebih 10 tahun kemudian pindah ke Surabaya dan wafat pada hari Jum’at yang lalu pukul 10.15 Wib. Dan yang tidak dalam keadaan berwudhu maka tidak perlu berdesakan untuk berwudhu, cukup berdiri saja. Shalat ghaib ini juga untuk syarifah Nur binti Abu Bakr Al Jufri dan juga untuk orang tua kita, kerabat kita, dan sahabat kita yang telah wafat. Semoga Allah subhanahu wata’ala memuliakan mereka di alam barzakh. Ayah bunda kita yang masih hidup semoga dimuliakan dan dipanjangkan usianya oleh Allah subhanahu wata’ala, amin allahumma amin. Dan imam dalam shalat ghaib nanti adalah guru kita fadhilah as sayyid Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas, dan juga saya mohon jangan berdesakan dalam bersalaman nanti. Sebelum kita melakukan shalat ghaib, kita tutup acara kita dengan qasidah yang mengingatkan kita kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beberapa bait, setelah itu kita melakukan shalat ghaib kemudian doa penutup, tafaddhal masykura.


http://www.majelisrasulullah.org

Saturday, October 16, 2010

Al-Allamah wal Fahamah Sayyidi Syarif Al-Habib Munzir bin Fuad

Habib Munzir al-Mussawa

Assalamualaikum w.b.t

Alhamdulillah wa syukruliLlah. Semoga bertambah cinta kita kepada Sayyidina Muhammad s.a.w melalui rasa cinta dan kaseh kepada ahlul bait nya yang sesungguhnya Allah telah mensucikan nasab mereka, subahanAllah..dan seterusnya dengan rasa cinta kepada Baginda Sayyidina Muhammad s.a.w, maka terus Allah mencintai dan mengasihani kita semua..subahanAllah, alhamduLillah..Allahuakbar..



:: Jom Kenal ^_^::

Soalan 1:Assalamualaikum Wr. Wb. Minal Aidin Wal Faizin Mohon Maaf sebelumnya Bib....pada kesempatan ini saya ingin bertanya tentang salasilah Habib sendiri sampai dengan Rasulullah SAW ? Saya sudah membaca di majalah Al Kisah, tetapi hanya terdapat dua nasab Habib sendiri. Mohon penjelasannya. Terima Kasih.

Munzir : Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh, Semoga Allah melimpahkan cahaya kerindhoan Nya kepada anda, terus terang saja catatan nasab saya ini saya kurang suka menampilkannya dan mempamerkannya, kerana belum pantas saya menyandang gelar keturunan Rasul saw, Yaa Allah.. Betapa hinanya saya ini dan sangat jauh dari selayaknya keturunan Rasul saw. Namun demi memenuhi permintaan anda yang menjadi Tamu Mulia di website kami maka saya memberanikan diri menuliskannya :

Hamba penuh Dosa Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad Almusawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abubakar Assakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Alghayur bin Muhammad Faqihil Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali' Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqibm Ali Al Uraidhiy bin Ja’afar Asshadiq bin Muhammad Albaqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein Dari Fathimah Azzahra Putri Rasul saw.

Semoga Cahaya kesucian Idul fitri, keberkahan, pengampunan dan segala rahsia keluhuran yang terpendam pada hari Idul fitri 1 syawal ini terlimpah pada anda dan keluarga, Amiin
_______________________________________________________

Soalan 2: Yang saya cintai Hb Munzir Al Musawa , saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan,yang sebenarnya pertanyaan ini diajukan oleh teman kerja saya yang saya tak dapat menjawabnya secara detail,iaitu mengenai salasilah keturunan Rasulullah yang menurut dia terputus nasabnya di Imam Hasan dan Husein yang tewas di Perang Karbala sehingga tidak ada lagi keturunan Rasulullah saat ini, mohon jawapan dari habib, saya secara peribadi sangat meyakini keberadaan Zuriah Rasul saat ini tetap ada. Jazakallah.

Munzir Re:Nasab Habaib - 2005/11/29 12:22

Alaikum salam warahmatullah wabarakaatuh, terimakasih atas perhatian anda, keturunan Hasan dan Husein hingga kini masih ada, sebagian kecil para pembenci keluarga Ahlulbait menafikan dzurriyah Rasul saw, sebagaimana juga kelompok lain menafikan ke absahan sahabat Rasul radhiyallahu' anhum, yg berjumlah 60 (enam puluh) ribu orang, maka golongan sesat itu mengatakan bahwa seluruh sahabat itu sesat, terkecuali beberapa orang saja.

Sayidina Hasan tidak wafat di kejadian Karbala, beliau radhiyallahu 'anhu wafat diracun sebelum kejadian Karbala, beliau meninggalkan keturunan 11 orang putra dan 6 orang putri, dan kemudian keturunan adalah dari putra beliau Hasan Mutsanna dan Zeid Radhiyallahu' anhuma. Sayyidina Husein wafat di Karbala, beliau mempunyai enam orang anak lelaki dan 3 wanita, Ali Akbar, Ali Awsat, Ali Ashghar, Abdullah, Muhammad, Jakfar, Zainab, Sakinah dan Fathimah.

putera Hasan keseluruhannya wafat terkecuali Al Al Awsat yg dikenal dengan Nama Ali Zainal 'Abidin, mempunyai putra bernama Muhammad Albaaqir, yang mempunyai Putra bernama Jakfar Asshaadiq. yang menjadi Guru dari Imam Hanafi, yang kemudian Imam Hanafi ini bermuridkan Imam Maliki, lalu Imam Maliki bermuridkan Imam Syafi'i dan Imam Syafi'i bermuridkan Imam Ahmad bin Hanbal. ringkasnya seluruh Ulama Ahlussunnah waljama'ah mengakui keabsahan keturunan Rasul saw dari Ali Zainal Abidin putra Husein.

Sayyidina Ali Zainal Abidin ini dilahirkan hari Khamis, 5 Sya'ban tahun 38 Hijriyah, masiih dimasa hidup kakeknya yairtu Ali bin Abi Thalib KW, dan diriwayatkan oleh Abu Hamzah Alyamaniy bahwa ia mengamalkan Ibadah 1000 raka'at tahajjud setiap malammnya, demikian pula Imam Ghazali yg banyak mengaguminya, salah satu riwayat yg dikatakan oleh Imam Thawus rahimahullah : "Ketika aku memasuki Hijr Isma'il ditengah malam yg gelap, ternyata Ali Zainal Abidin Putra Husein sedang sujud.. alangkah lama sujudnya, lalu kepalanya terangkat dan kedua tangannya terangkat bermunajat dg suara lirih : "HambaMu dihadapan Pintu Mu, Si Miskin ini dihadapan Pintu Mu, si fagir ini dihadapan Pintu Mu...."

Beliau wafat pada tahun 93 Hijriyah, dan ada pendapat mengatakan tahun 94 Hijriyajh, dimakamkan di Kuburan Baqi' (Madinah Almnawarah), dipusara yang sama dg pamannya yaitu Hasan bin Ali kw beliau (Ali Zainal Abidin rahimahullah) meninggalkan 15 orang anak, dan yang sulung adalah Muhammad Albaqir. (rujuk Kitab Al Ghurar, oleh Imam Al Muhaddits Muhammad bin Ali Alkhird, yg wafat tahun 960 Hijriyah). Kitab ini merupakan salah satu kitab Induk yg menjelaskan silsilah keturunan Rasul saw. Maaf saya meringkaskan jawaban ini seringkas mungkin untuk menyingkat waktu sehubungan masih banyak pertanyaan lain yg harus saya jawab wallahu a'lam terimakasih atas pertanyaan anda.

www.majelisrasulullah.org


Wednesday, September 22, 2010

Dosa Tika Cinta..


Ya Allah...
Saat ini...
Tika ini...
Waktu ini...
Aku teramat merindui Mu...
Merindui Mu...Merindu ampunan Mu...
Ya Ilahy...

Ya Allah...
Adakah aku sedang berdusta..?
Adakah aku sedang menjauh dari Mu...?
Adakah aku sedang berpaling dari Mu..?
Adakah aku sedang menghindar diri dari Mu..?
Atau..
Adakah aku tidak layak untuk Cinta Mu..
Cinta Mu Yang Maha Suci...
Maha Indah...
Maha Terpelihara...
dan..
Maha Agung...

Ya Allah...
Di saat aku berdosa...
Engkau masih sudi memandang ku...
Mendengar rintihan ku...
Mendengar rayuanku...
Mendengar kekecewaan ku..
Engkau Ya Allah...
Sudi mengusap air mata ku...
dan...
Engkau menyentuh hati ku...
dengan sentuhan Mu Yang Maha Lembut...
Ya Latif...

Ya Allah...
Engkau selalu dekat dengan ku...
Engkau selalu memberi kegembiraan pada ku...
walau yang terlihat itu duka...
Tapi..
Hakekatnya bahagia...
Walau dalam duka...
Engkau mahu aku terus mendakap tenang Cinta Mu..
Maha Suci Engkau Tuhan...

Maha Suci Engkau..!
Sesungguhnya Tuhan..
Aku tersentak dengan Kaseh Mu...
Aku terhibur dengan Cinta Mu...
Aku menangis dengan Sentuhan Mu...

Ya Ilahy...
Andai masa telah tiba...
Aku ingin pergi dalam pelukan kalimah Ya Allah..
Kerana denganNya..
Aku akan rasa bahagia dan bermakna..
SubahanAllah...

:: Aku cinta Kamu ::

Sunday, September 19, 2010

Engkau telah pergi..


9 hari sudah berlalu...
Engkau telah pergi meninggalkan aku...
Meninggalkan aku keseorangan tanpa sesiapa...
Iman ku ini...
Tidak lagi mampu menasihati nafsu yang telah di hasut syaitan..

9 hari sudah berlalu...
Berlalu dan aku mencipta dosa baru..
Dosa itu yang telah ku pinta ampun maaf..
Kini terulang lagi..
Kerana aku..
Belum beriman...

9 hari sudah berlalu..
Berlalu dengan memberi Fitrah hanya untuk seketika..
Dan aku lah yang amat menzalimi diri..
Menzalimi diri untuk kehidupan yang tidak pernah kekal..

Oh Tuhan..!!!!
Yang Maha Mendengar...
Yang Maha Melihat...
Yang Maha Membantu...
Dengarkanlah permintaan ku...
Ku persembahkan pada Mu kekesalan ku...
dan..
Bantulah aku untuk menuju Mu..
Munuju kepada Pengampunan Mu sebelum Engkau menutupnya...

Ya Tuhan ku..
Bantulah aku untuk sentiasa rasa berdosa pada Mu...
Bantulah aku untuk sentiasa rasa takut pada Mu...
Bantulah aku untuk sentiasa menghina diri pada Mu...
Bantulah aku untuk sentiasa taat pada Mu...
Bantulah aku untuk sentiasa syukur pada Mu...

Sesungguhnya...!!
Engkaulah pemberi RASA itu...
Kurniakanlah aku RASA itu...
Rasa yang mahal...
Rasa yang akan mencukupkan aku sebagai hamba Mu...
Rasa yang menghilangkan lapar dan dahaga ku...
Rasa yang melemahkan nafsuku..
Rasa yang menjadi penghibur di kala duka ku...
Rasa yang membuatkan ku merindui Mu..!!

Ya Robbi...


(Tuhan..aku malu pada Mu..T_T)

Monday, September 6, 2010

Bertemu sudahkah kita berdua?


Kali pertama itu..
Ibuku sungguh terkejut sekali bertemu dengan mu..
Pertemuan yang tidak pernah di jangka..
Engkau datang secara mengejut..
Mengunjungi kami sekeluarga..
Beserban berjubah..
Sungguh indah..
Wajah mu bercahaya..
Dengan rombongan yang ramai..
Ibuku terpegun..melihat ciptaan Tuhan yang Maha Indah..

Aku kira..
Engkau ingin melamarku..
Tetapi, kita tiada jodoh tika itu..
Engkau hanya ingin bertemu ibuku..
Dan..
Aku panjatkan ke syukuran kepada Tuhan yang menghadirkan engkau dalam hidupku..

Setiap tahun..
Aku menanti kehadiran mu..
Menanti dengan debaran..
Debaran kerna takut melukai mu lagi..
......kerana dosa-dosa ku..
Aku terijab dari bertemu mu..
Terhijab dari berbicara dengan mu..
Terhijab dari salam mu yang menggoncang hati ku..
Ya Allah...
Akulah yang berdosa..
Tidak layak bertemu dia....

***
Namun..
Aku tidak pernah putus harapan di atas Rahmat Mu, Tuhan..
Dengan keAgungan nama Mu, aku meminta..
...merintih agar di temukan lagi..
Aku terlalu merindui dia, Ya Allah..
Rindu ingin bertemu..
Kerana..
dia sungguh istimewa..

..T_T..Lailatul Qadar..


:: Denga berkat Rasulullah s.a.w.. Aku berharap pada Tuhan, semoga malam itu telah hadir dalam diriku. Malam yang sungguh berbeza. T_T', Entah mengapa.. Aku bertanya pada Tuhan, kenapakah malam itu sangat berbeza? Kenapakah aku tidak dapat lelapkan mata dan rasa mengantuk sirna. Malam yang suasana nya sunyi..hening..indah..malam yang dengan satu kicauan burung..sayu sekali.. T_T, SubahanAllah.. Keesokkannya, aku melihat begitu banyak kepulan awan bewarna putih dari pagi hingga ke petang, tiada panas..SubahanAllah.. Aku berdoa semoga kita semua telah di rezekikan bertemunya pada malam itu.. T_T ameen.. ::

Tuesday, August 17, 2010

~..Aku malu bertemu mu...Ramadhan Kareem ~


Benarkah Ya Allah...
Benarkah aku merinduinya...
Benarkah aku menantinya...
Atau aku sekadar menipu diriku...
Kononya aku juga mahu mendapatkannya...

Ya Allah...
Aku malu ingin bertemunya lagi...
Malu hingga mahu lari darinya...
Malu yang teramat dengannya...
Malu.....malu kerana pertemuan yang lalu aku sia-siakanya...
Aku sia-siakannya dengan melakukan dosa-dosa yang menyiksakan jasadku dan Rohku..
Aku malu....Ya Allah...

Ya Allah...
Masih sudikah dia bertemu ku...
Bertemu ku untuk bersama dengan ku...
Sebagaimana dia bersama dengan para solihin yang lain...
Bersama untuk mengisi kembali Roh yang telah tandus dengan dosa-dosa ini...
Ya Allah....
Masih sudikah dia Ya Allah...

Duhai Ramadhan Kareem...
Betapa mulia dirimu...
Dirimu menjadi sebutan penduduk langit dan bumi...
Di saat engkau menjelang tiba...
Tapi aku...
Masih di baluti dosa...
Terbiaskah kemuliaanmu dalam diriku...

Duhai Ramadhan Kareem...
Maafkanlah aku kerana mensia-siakan mu...
Aku berharap pada Tuhan kita...
Moga engkau sudi bertemu dan bersama ku lagi di saat ini...
Di saat Roh ku sunyi...
Untuk menebus dosa ku yang lalu...
Agar dapat kembali ke sana sebagai penghuni syurga Mu, Ya Ilahi..

----------------------------------------------------------------------------

Ya Allah...
Semoga Ramadhan Kareem kali ini dapat menembuskan rasa rindu dan cinta ini kepada
Mu dan Nur Muhammad...
Ameen... T_T

Ainulhafizah
1.54 Tengahari


Wednesday, July 21, 2010

Dalam Gelap..


Dalam gelap hatiku..
Ku mencari Mu..

Dalam gelap cintaku..
Ku menCintai Mu..

Dalam gelap harapanku..
Ku mengharap pada Mu..

Dalam gelap pandanganku..
Ku mengharap 'pandangan' Mu..

Dalam gelap rasaku..
Ku mengharap 'rasa' Mu..

Dalam gelap langkah ku..
Ku mengharap Engkau 'melangkah' pada ku..

Dalam gelap redhoku..
Ku mengharap Redho Mu..

Tuhan.............
Akulah yang telah zalim lagi menzalimi diri ini..
Akulah hamba Mu yang telah gila..
Akulah hamba Mu yang kufur pada Mu..
Akulah hamba Mu yang telah bermaksiat pada Mu..
Akulah hamba Mu yang bodoh menilai peringatan Mu..
Akulah yang selalu mengejar nama dan puji-pujian manusia..
Akulah hamba Mu yang terpenjara dalam nafsu ini..

Tuhan.............
Aku pernah merasa..
Akulah yang akan ke Neraka Mu..
Dan yang lain ke Syurga..

Tuhan.............
Aku tahu, aku dari negeri yang Ghaib..
Datang ke dunia adalah untuk pulang kesana..
Aku merindui saat taat pada Mu..
Janganlah Engkau palingkan keinginanku melainkan hanya pada Mu..
Kerna..akulah yang berkehendak pada Mu..


Ainulhafizah
5.25 petang

Raudatul AbdiLlah

Wednesday, May 26, 2010

Jeritan dari dalam..


Tuhan..
Adakah aku sedang menjauhi-Mu..
Atau..

Sudah habiskah hidayah-Mu untukku kerana dosaku..
Atau..

Aku terlalu hina untuk meminta pada-Mu..
Atau..

Akukah yang terlalu payah meminta pada-Mu..

Tuhan..
Kasehanilah aku..
Aku lemah, dan bantuan-Mu teramat ku harapkan..
Jalan ini penuh liku..Tuhan

Oh Tuhan..
Jasad ku benar-benar menjadi sangkar Ruhku ini..
Ruh ku yang terpaksa sakit akibat jasadku yang degil..
Ruh yang sering menjerit kesakitan..
Suaranya terus hilang dari pendengaran..

Oh Tuhan..

Ampunkan aku kerna mereka yang degil..
Mata yang degil..
Telinga yang degil..
Mulut yang degil..
Tangan yang degil..
Kaki yang degil..
Degilnya mereka kerana menurut syaitan dan nafsu..
Syaitan dan nafsu yang mengajak maksiat..
Syaitan dan nafsu selalu mengganggu..
Bila aku ke depan, dia menerpa dari belakang..
Bila aku ke kanan, dia mengejar ku ke kanan..
Bila aku ke kiri, dia mengejarku ke ke kiri..
Bila aku berhenti, dia membelenggu ku...

Oh Tuhan..

Aku merintih pada-Mu..
Aku tak mampu tanpa-Mu..
Bantulah aku melawan syaitan dan nafsu..
Tewaskan mereka Tuhan..
Tewaskan mereka..


..dan ku pinta..
Sedekahkanlah amal ibadah buatku..
Agar aku terus thabat di jalan-Mu ini..
Ameen, Ya Robb..

Tuesday, May 4, 2010

Saat Indah Munajat Pada-Mu..


Tuhan..
Aku ingin selalu menghina diriku di hadapan-Mu..
Dan aku mengaku..
Engkaulah Yang Maha Sempurna..

Tuhan..
Himpunan dosa ku menghimpit benak ku..
Mengharap ampunan-Mu teramatlah aku butuhkan..
Mengharap pembelaan-Mu dalam setiap langkah ku..
Mengharap kaseh-Mu dalam setiap hela nafasku..

Tuhan..
Aku tidak pernah putus harap pada-Mu..
Kerana Engkau lah yang telah berkehendak demikian pada ku..
Engkau lah yang memperjalankan aku untuk jangan berputus harap pada-Mu..
Engkau ingin aku selalu berharap pada-Mu..
Dan bila aku mengharap..
Engkau juga berharap..
Engkau lah yang cukup sempurna di hati ku..

Tuhan..
Dengan se izin-Mu..
Engkau telah memperjalankan seluruh cinta ku pada-Mu..
Cinta pada Mu mahu aku mengenali siapa Engkau di hati ku..
Kelazatannya terkadang Engkau pamerkan..
Terkadang pula..
Engkau selindungkan..
Terkadang aku faham..
Terkadang pula aku buntu..
Itulah diri ku yang bodoh dalam mengenali-Mu..
Bodoh dalam berCinta..
Bodoh dalam berTerus terang pada-Mu..

Namun..
Hanya satu..
Aku perlu yakin..
Dalam bodohnya aku memahami-Mu..
Rupa-rupanya aku mencintai-Mu..

Sunday, May 2, 2010

Pimpinlah ketaatan ku ini Ya Allah..


Ya Allah...
Sampaikanlah aku ke hadhirat-Mu...
Perjalankanlah aku di jalan-Mu...
Bimbinglah aku dalam syariat-Mu...
Agar jalan menuju-Mu ku rasai hakikat...

Ya Allah...
Ku pinta...
Ku rintih...
Ku rayu...
Tutupilah ke aiban ku...
Tunjukilah keAgungan-Mu ke atas ku...
Agar dengan keAgungan-Mu, aku bisa mentaati-Mu...
Untuk aku mencapai mahmudah yang istiqomah...

Ya Allah...
Anugerahkanlah aku rasa cinta ku pada-Mu...
Anugerahkanlah aku rasa cinta ku pada-Mu...
Anugerahkanlah aku rasa cinta ku pada-Mu...

ameen Ya Robb..